Surat Buat Presiden

 

Surat Buat Bapak Presiden

Pendidikan Merata Sampai Pelosok Negeri

Yang Terhormat:

Presiden Republik Indonesia

Bapak H. Prabowo Subianto

di tempat

Assalamualaikum, Warohmatulaahi Wabarokatuh

Salam sejahtera  Bapak Presiden. Senang rasanya diberi kesempatan bagi kami seorang guru di pinggir desa untuk bersurat kepada Bapak. Perkenalkan saya Suprapti, Guru IPA SMP di desa wilayah  Kabupaten Subang, Jawa Barat. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan pendidikan nasional, mulai dari sistem,  pemangku kebijakan  (pemerintah), sumber daya manusia (guru, murid, orang tua, masyarakat) juga infrastruktur/fasilitas  yang mendukung.  Di pundak kami ada tanggungjawab sebagai ujung tombak yang berhadapan langsung dengan murid, anak-anak harapan dan penerus bangsa. Keadaan kami, murid dan medan juangpun beragam. Masih banyak yang sekolah dasar dan menengah di pelosok rimba yang belum  punya gedung layak, guru serta akses jalan yang memadai. Untuk sampai di sekolahpun harus berjalan ber jam-jam di jalan yang berlumpur,  bahkan bertaruh nyawa menyebrang jembatan tali seadanya (terutama saudara kita di  daerah pasca bencana banjir/longsor Aceh dan Sumatra). Ada yang mengajar di pulau terpencil harus  naik perahu kecil melintas laut, jika ada angin badai, hanya Allah tempat bersandar dan memanjatkan doa agar selamat sampai sekolah. Sesampai di darat pun masih harus menunggu mobil angkutan/jalan lagi. Di distrik  Der Koumur, Kabupaten Asmat, yang terletak di kaki burung Pulau Irian anak harus naik dayung melintasi rawa untuk sampai ke sekolah.

 

Feri Sogorom bersama temannya mendayung sampan menuju sekolah di Distrik Der Koumur, Kab. Asmat

Bapak Presiden yang terhormat

Anak-anak di belahan mana pun berada  tentunya memiliki hak dan akses menerima pendidikan yang sama. Sehubungan dengan kondisi di atas, ijin untuk menyampaikan usulan  bagaimana  kalau dana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diprioritaskan untuk pemerataan pendidikan ke seluruh pelosok. Baik infrastruktur, gedung yang layak dan memadai, guru yang kompeten dan diperhatikan gaji/ kesejahteraannya, bukan honorer dengan gaji Rp. 300 – 400 per bulannya. Terbayang dana 1 T saja sudah dapat membuat berapa sekolah lengkap dengan fasilitas dan tenaga kependidikannya. Apalagi untuk pembangunan kembali daerah pasca bencana. Memang ada sebagian yang penerima  manfaat yang tepat sasaran, selain terbukanya lapangan kerja. Tapi tidak sedikit juga yang mubadzir  tidak termakan,  timbul masalah baru nyampah yang tidak terkelola dengan baik. Anak susah/tidak cocok dengan menu, tapi yang di makan malah mi/jajanan yang kurang bergizi. Jikalau mau tetap ada MBG dipilih daerah yang rawan stunting (kurang gizi) dan perlunya edukasi gizi baik anak maupun orang tuanya. Untuk daerah darurat sampah yang Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah  sampai membentuk gunung beracun (gas metana) seperti Bantar Gebang Bekasi, Sari Mukti Bandung, Jatibarang Semarang, Suwung Denpasar dan /kawasan padat penduduk sebaiknya juga didirikan Satuan Pelayanan Pengumpulan Sampah (SPPS) atau Waste Station sebanyak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) seperti sekarang ini,  agar dapat mengatasi darurat sampah.

Bapak Presiden yang kami hormati

Semoga curhatan ini bukan sekedar goresan pena di atas kertas, tapi ada manfaat dan respon positif.  Mohon maaf jika kurang berkenan, sekedar kepedulian kami terhadap keadaan/lingkungan dari guru di pinggir desa. Terimakasih. Semoga Bapak sehat selalu dan mendapat berkah serta ridho Allah. Aamiin

Wa’alaikumsalam Warohmatulaahi Wabarokatuh.

81 tahun Indonesia Merdeka, Dirgahayu Indonesiaku

Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur

Salam Sejahtera 

Suprapti
(Guru di pinggir desa Subang)

Comments

Popular posts from this blog

Membangun Indonesia melalui PJJ yang menyenangkan

Salam Bravo Sang Mentor

Ketika Mbah Kena COVID -19